Kamis, 29 November 2012

Harusnya "Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati"

Saya tertarik pada sebuah berita VOA yang berjudul Menyusul Kematian Karena Difetri, Jawa Timur Laksanakan Imunisasi Serentak. Di berita ini di jelaskan bahwa di Jawa Timur mengadakan imunisasi serentak untuk melawan penyakit difetri yang telah mengenai 750 orang dan menewaskan 29 orang. Pemerintah daerah Jawa Timur menetapkan peristiwa ini menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Lah? Kenapa setelah timbul korban baru sibuk melakukan penanggulangan? bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati.

Berita mengenai "difetri" ini  beberapa waktu lalu lumayan banyak saya dengar baik di media online maupun elektronik. Sebelumnya saya tidak banyak mengetahui apa itu difetri. Saya merasa tergelitik karena pada headline di berita ini dijelaskan difetri ini telah menybabkan 29 orang tewas dan membuat pemerintah khusus Jawa Timur menjadikan peristiwa ini menjadi kejadian Luar Biasa (KLB). Sebelum saya jadi orang yang sok tau dan berpendapat tanpa tau apa-apa, maka saya memilih untuk mencari tahu terlebih dahulu baru ikut berpendapat.
Sumber : Dinkes Jatim


Apa Itu Difetri ?

Setelah saya googling mencari tahu apa itu difetri, "Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Difteri umumnya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian"
Difteri, secara garis besar adalah penyakit menular yang ditandai dengan sakit pada kerongkongan. Selain itu juga dapat membuat penderita mengalami sakit pada saat menelan, badannya akan terasa lemah. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Kuman bakteri yang ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri ini, seringkali menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil,nasofaring (bagian antara hidung dan faring/tenggorokan) dan laring. Selain menyerang tonsil, faring, atau laring, adakalanya kuman ini menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina. 
Sebenarnya dari beberapa sumber, difetri jarang terjadi  dan mewabah pada negara maju, karena peraturan yang ditetapkan pada banyak negara maju adalah dengan mewajibkan imunisasi pada anak-anak. Difetri justru banyak di temukan di negara-negara berkembang dimana regulasi peraturan mengenai kewajiban imunisasi di negara itu masih longgar seperti halnya yang terjadi di Jawa Timur baru-baru ini.

Orang-orang yang berada pada resik tertular difetri adalah :
  1. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru
  2. Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak sehat
  3. Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan
  4. Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri.


Apa Saja Gejala dari Difetri ?
Sumber Gambar
Setelah udah tau sekilas tentang difetri, musti tau juga bagaimana gejala apabila seserang terjangkiti oleh difetri. Gejala penyakit ini mulai timbul dalam waktu 1-4 hari setelah terinfeksi. Tanda pertama dari difteri adalah sakit tenggorokan, demam dan gejala yang menyerupai pilek biasa. Bakteri akan berkembang biak dalam tubuh dan melepaskan toksin (racun) yang dapat menyebar ke seluruh tubuh dan membuat penderita menjadi sangat lemah dan sakit. Gejala-gejala ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Jika tidak diobati, racun yang dihasilkan oleh kuman ini dapat menyebabkan reaksi peradangan pada jaringan saluran napas bagian atas sehingga sel-sel jaringan dapat mati.
Gejala-gejala lain yang muncul, antara lain:
  1. Menelan sakit, batuk keras dan suara menjadi parau
  2. Mual dan muntah-muntah
  3. Demam, menggigil dan sakit kepala
  4. Denyut jantung meningkat
  5. Terbentuk selaput/membran yang tebal, berbintik, berwarna hijau kecoklatan atau keabu-abuan di kerongkongan sehingga sukar sekali untuk menelan dan terasa sakit.
  6. Bila difteri bertambah parah, tenggorokan menjadi bengkak sehingga menyebabkan penderita menjadi sesak nafas, bahkan yang lebih membahayakan lagi, dapat pula menutup sama sekali jalan pernafasan.
  7. Kelenjar akan membesar dan nyeri di sekitar leher.
  8. Kadang-kadang telinga menjadi terasa sakit akibat peradangan
  9. Penyakit difteri dapat pula menyebabkan radang pembungkus jantung sehingga penderita dapat meninggal secara mendadak.

Proses Penularan 

Penularan difetri yang terjadi secara kasat mata dapat di ketahui dengan mudah. Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui beberapa cara,
Pertama, melalui Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka akan melepaskan uap air yang terkontaminasi dan memungkinkan orang di sekitarnya terpapar bakteri tersebut.
Kedua, kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari barang-barang pribadi seperti gelas yang belum dicuci.
Ketiga, melalui barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, seperti handuk atau mainan.
Selain itu, kita juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut bila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi. Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri dan belum diobati dapat menginfeksi orang nonimmunized selama enam minggu - bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun.
Pencegahan dan Pengobatan
Seperti pernyataan di awal "lebih baik mencegah daripada mengobati", maka untuk mencegah difetri yang paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis (DPT) sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas. Berdasarkan program dari Departemen Kesehatan RI imunisasi perlu diulang pada saat usia sekolah dasar yaitu bersamaan dengan tetanus yaitu DT sebanyak 1 kali. Sayangnya kekebalan hanya diiperoleh selama 10 tahun setelah imunisasi, sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap 10 tahun sekali.
Selain itu penyakit difteri dapat dicegah dengan cara selalu menjaga kebersihan baik diri maupun lingkungan. Karena penyakit menular seperti difteri ini paling mudah menular dalam lingkungan yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Tidak hanya itu, penting pula menjaga pola makan yang sehat.
Sedangkan pengobatan difteri difokuskan untuk menetralkan toksin (racun) difteri dan untuk membunuh kuman Corynebacterium diphtheriae penyebab difteri. Dengan pengobatan yang cepat dan tepat maka komplikasi yang berat dapat dihindari, namun keadaan bisa makin buruk bila pasien dengan usia yang lebih muda, perjalanan penyakit yang lama, gizi kurang dan pemberian anti toksin yang terlambat.
Menanggapi apa yang terjadi khususnya di Jawa Timur baru-baru ini yang telah mengenai sekitar 750 orang dan menewaskan kurang lebih 29 orang karena difetri. Peristiwa ini yang membuat pemerintah Jatim gelagapan dan menetapkan peristiwa ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Padahal kita telah mengenal istilah "Mencegah lebih baik daripada mengobati", hal ini sangat berguna bila di terapkan untuk menghindari atau mengantisipasi hal-hal buruk yang terjadi. Kenyataan yg terjadi di negara kita terkesan lebih suka "mengobati daripada mencegah", terlihat apa yang terjadi khususnya di Jawa Timur karena "difetri" ini. Tidak hanya di Jawa Timur saja menurut saya, banyak juga kasus-kasus yang serupa terjadi di negara kita. Kesannya kalau kita baru melakukan sebuah tindakan jika ada penyebabnya. Mungkin ini semua karena dasarnya paradigma yang telah tertanam dan kebiasaan yang dilakukan. Harusnya, kita mencegah bersama dengan membangun suatu sistem yang baik dan di terapkan secara berkesinambungan setalah itu semua berjalan baru melakuman evaluasi rutin sehingga dapat menemukan hasil yang baik untuk kepentingan berasama. Diharapkan nantinya dalam hal ini "difettri" bisa di cegah dan diminialkan serta mencegah timbulnya korban jiwa lagi.Kegiatan ini dapat dijalankan dengan baik apabila ada peran aktif dari pemerintah khususnya dari Dinas Kesehatan serta kesadaran dari warga dan seluruh rakyat yang terkait di dalamnya.






Sumber :
[1] voaindonesia
[2] Menyusul Kematian Karena Difetri, Jawa Timur Laksanakan Imunisasi Serentak
[3] Mengenal Difteri Lebih Dekat
[4] mencegah penyakit difteri
[5] id.wikipedia.org/Difteri

7 komentar:

  1. salut banget, bahasanmu bagus, pake gambar juga jadi ga ngebosenin, aku padahal dokter muda tapi kayanya ga bsia bikin bahasan sebagus blogmu deh, salut2 ikut lomba ya? moga menang, he..
    oya follow nd komen balik ya... lagi nyoba bikin puisi nih, he...

    BalasHapus
  2. wuh, makasih ya bu dokter :)

    BalasHapus
  3. selamat berlomba bro.. :)

    BalasHapus
  4. jadi nama penyakitnya itu Difteri atau Difetri ? #bingung #dibahas
    Nganut pola hidup sehat InsyaAllah ga kena, nganut pola hidup sehat sih iya tapi ukuran badannya ga sehat (kurus) -__-

    BalasHapus
  5. Waaaa untung aku bulan ini mau imunisasi DPT :D

    BalasHapus
  6. Ciptanirmala : makasih bu dokter, mari bersama menyehatkan Indonesia :D

    BalasHapus
  7. Bahrumsyah : iya, pola hidup sehat tentunya. 4 sehat 5 sempura ditambah susu~

    Arka sujiwo : nak, kamu udah gede? udah punya blog :D mama pungky emang hebat :D selamat berimunisasi ya :D

    BalasHapus